Iman adalah seorang pria sederhana asal Lombok yang mulai merantau ke Bali pada tahun 2012 dengan membawa sedikit modal dan mimpi besar. Lahir dari keluarga petani dengan ekonomi yang pas-pasan, Iman menghabiskan masa kecilnya membantu orang tuanya di ladang dan sering kali berhemat demi bisa bersekolah. Meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, semangat dan ketekunan Iman tidak pernah padam.
Dengan modal Rp 5 juta yang dia pinjam dari tetangganya, Iman merintis usaha kecil-kecilan di pinggir jalan di daerah Kuta, Bali. Awalnya, dia hanya berjualan nasi bungkus lauk sederhana seperti ayam suwir, telur dadar, dan sayur urap yang dimasak sendiri setiap pagi. Harga jualnya pun sangat terjangkau, hanya Rp 10.000 per bungkus.
Setiap hari Iman berjualan mulai pukul 10 pagi hingga sore hari. Cuaca panas Bali yang terik tidak menyurutkan semangatnya. Dia berjualan di sudut jalan yang ramai dilalui para pekerja lokal maupun wisatawan. Meskipun kadang hari-hari sepi tidak banyak pembeli, Iman tetap bersemangat dan percaya bahwa usahanya akan berhasil.
Perjalanan Iman tidak selalu mulus. Di tahun ketiga usahanya, persaingan dengan penjual makanan lain semakin ketat. Banyak warung serupa bermunculan di sekitar area jualannya. Selain itu, biaya sewa tempat dan harga bahan baku yang terus meningkat membuat keuntungan Iman semakin menipis.
Suatu hari, warung sederhana yang didirikan Iman hampir saja tutup karena dia tidak mampu membayar sewa bulanan. Dalam kondisi putus asa, Iman hampir mengalah dan berencana kembali ke kampung halaman. Namun, istri tercintanya, Siti, terus memberikan dukungan dan memintanya untuk tetap bertahan.
Suatu hari, seorang food blogger terkenal dari Jakarta kebetulan singgah di warung Iman. Terpesona dengan kelezatan masakan yang disajikan, blogger tersebut memposting ulasan positif di blog dan akun media sosialnya. Dalam hitungan hari, Warung Makan Nikmat Iman mendadak ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Iman segera memanfaatkan momentum ini. Dia meningkatkan kualitas layanan dan variasi menu. Dari awalnya hanya berjualan nasi bungkus dia mulai menyajikan menu-menu khas seperti Bebek Betutu, Sate Lilit, dan Lawar yang dikenal sebagai khas Bali. Semuanya dimasak dengan resep warisan keluarga Iman dari Lombok yang telah dimodifikasi dengan sentuhan rempah-rempah lokal Bali.
Kini, tujuh tahun setelah didirikan, Warung Makan Nikmat telah berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner paling populer di Bali. Iman telah membuka dua cabang baru di Seminyak dan Ubud. Setiap cabangnya memiliki desain interior yang unik, menggabungkan elemen tradisional dan modern, dengan kapasitas hingga 100 pelanggan.
Sarah, seorang wisatawan asal Australia, menjadi pelanggan tetap Warung Makan Nikmat sejak tahun 2018. "Saya pertama kali ke sini oleh rekomendasi teman, dan sejak itu setiap kali saya ke Bali, saya selalu mampir di sini. Rasanya benar-benar autentik dan tidak bisa saya temukan di restoran Indonesia di Australia," ujarnya.
Sama halnya dengan Budi, seorang pekerja lokal di Kuta. "Saya sudah makan di sini sejak Iman masih berjualan di pinggir jalan. Saya melihat perjuangannya dari nol sampai sukses seperti sekarang. Bangga sekali ada orang Indonesia yang bisa berkembang seperti ini," kata Budi.
Meskipun telah sukses, Iman tidak melupakan asal-usulnya. Setiap bulan, dia menyisihkan 5% dari keuntungan usahanya untuk membantu anak-anak kurang mampu di kampung halamannya di Lombok. Iman juga mempekerjakan penduduk lokal dari desa sekitarnya dan memberikan pelatihan keterampilan memasak bagi mereka yang berminat.
Selama pandemi COVID-19, ketika banyak usaha kuliner terpaksa tutup, Warung Makan Nikmat tetap bertahan meski dengan variasi menu yang disesuaikan. Iman dan timnya mengubah konsep usaha menjadi lebih fokus pada layanan pesan antar dan paket makanan siap sajikan. Iman juga memberikan makanan gratis bagi tenaga medis dan pekerja yang kehilangan penghasilan akibat pandemi.
Iman kini sedang merencanakan pembukaan cabang keempat di Sanur dan bahkan mempertimbangkan untuk membuka cabang di luar Bali, mungkin di Jakarta atau Lombok sendiri. Dia juga berencana menerbitkan buku resep berisi masakan-masakan favorit dari Warung Makan Nikmat bagi para pelanggannya yang ingin mencoba memasak sendiri di rumah.
"Mimpi saya selanjutnya adalah membuka sekolah memasak gratis bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki passion di dunia kuliner. Saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman saya, karena saya percaya dengan pendidikan dan keterampilan, siapa pun bisa mengubah nasibnya," tutup Iman dengan senyum yang hangat.